Tapi bagiku sendiri, itu adalah hal yang
biasa-biasa saja, sebab aku sendiri merasa bahwa sosok Kak Arfan adalah
sosok yang tidak istimewa. Apa istimewanya menghadiri taklim, kuper dan
kampunga banget. Kadang hatiku sendiri bertanya, koq bisa yah, ada orang
yang sekolah di kota namun begitu kembali tak ada sedikitpun ciri-ciri
kekotaan melekat pada dirinya, HP gak ada. Selain bantu orang tua, pasti
kerjanya ngaji, sholat, taklim dan kembali ke kerja lagi. Seolah riang
lingkup hidupnya hanya monoton pada itu-itu saja, ke biosokop kek,
ngumpul bareng teman-teman kek stiap malam minggunya di pertigaan
kampung yang ramainya luar biasa setiap malam minggu dan malam kamisnya.
Apalagi setiap malam kamis dan malam minggunya ada acara curhat kisah
yang TOP banget disebuah station Radio Swasta digotontalo, kalau tidak
salah ingat nama acaranya Suara Hati dan nama penyiarnya juga Satrio
Herlambang.
Waktu terus
bergulir dan seperti gadis-gadis modern pada umumnya yang tidak lepas
dengan kata Pacaran, akupun demikian. Aku sendiri memiliki kekasih yang
begitu sangat aku cintai, namanya Boby. Masa-masa indah kulewati bersama
Boby. Indah kurasakan dunia remajaku saat itu. Kedua orang tua Boby
sangat menyayangi aku dan sepertinya memiliki sinyal-sinyal restunya
atas hubungan kami. Hingga musibah itu tiba, aku dilamar oleh seorang
pria yang sudah sangat aku kenal. Yah siapa lagi kalau bukan si kuper
Kak Arfan lewat pamanku. Orang tuanya Kak Arfan melamarku untuk anaknya
yang kampungan itu.
Mendengar
penuturan mama saat memberitahu padaku tentang lamaran itu, kurasakan
dunia ini gelap, kepalaku pening…, aku berteriak sekencang-kencangnya
menolak permintaan lamaran itu dengan tegas dan terbelit-belit aku
sampaikan langsung pada kedua orang tuaku bahwa aku menolak lamaran
keluarganya Kak Arfan. dan dengan terang-terangan pula aku sampaikan
pula bahwa aku memiliki kekasih pujaan hatiku, Boby.
Mendengar
semua itu ibuku shock dan jatuh tersungkur kelantai. Akupun tak menduga
kalau sikapku yang egois itu akan membuat mama shock. Baru kutahu bahwa
yang menyebabkan mama shok itu karena beliau sudah menerima secara
resmi lamaran dari orang tuanya Kak Arfan. Hatiku sedih saat itu,
kurasakan dunia begitu kelabu. Aku seperti menelan buah simalakama,
seperti orang yang paranoid, tidak tahu harus ikut kata orang tua atau
lari bersama kekasih hatiku Boby.
Hatiku
sedih saat itu. Dengan berat hati dan penuh kesedihan aku menerima
lamaran Kak Arfan untuk menjadi istrinya dan kujadikan malam terakhir
perjumapaanku dengan Boby di rumahku untuk meluapkan kesedihanku.
Meskipun kami saling mencintai, tapi mau tidak mau Boby harus merelakan
aku menikah dengan Kak Arfan. Karena dia sendiri mengakui bahwa dia
belum siap membina rumah tangga saat itu.
Tanggal
11 Agustus 2007 akhirnya pernikahanku pun digelar. Aku merasa bahwa
pernikahan itu begitu menyesakkan dadaku. Air mataku tumpah di malam
resepsi pernikahan itu. Di tengah senyuman orang-orang yang hadir pada
acara itu, mungkin akulah yang paling tersiksa. Karena harus melepaskan
masa remajaku dan menikah dengan lelaki yang tidak pernah kucintai. Dan
yang paling membuatku tak bias menahan air mataku, mantan kekasihku boby
hadir juga pada resepsi pernikahan tersebut. Ya Allah mengapa semua ini
harus terjadi padaku ya Allah… mengapa aku yang harus jadi korban dari
semua ini?
Waktu terus berputar dan malam pun semakin merayap. Hingga usailah acara
resepsi
pernikahan kami. Satu per satu para undangan pamit pulang hingga sepi
lah rumah kami. Saat masuk ke dalam kamar, aku tidak mendapati suamiku
Kak Arfan di dalamnya. Dan sebagai seorang istri yang hanya terpaksa
menikah dengannya, maka aku pun membiarkannya dan langsung membaringkan
tubuhku setalah sebelumnya menghapus make-up pengantinku dan melepaskan
gaun pengantinku. Aku bahkan tak perduli kemana suamiku saat itu. Karena
rasa capek dan diserang kantuk, aku pun akhirnya tertidur.
Tiba-tiba
di sepertiga malam, aku tersentak tatkala melihat ada sosok hitam yang
berdiri disamping ranjang tidurku. Dadaku berdegup kencang. Aku hampir
saja berteriak histeris, andai saja saat itu tak kudengar serua takbir
terucap lirih dari sosok yang berdiri itu. Perlahan kuperhatikan dengan
seksama, ternyata sosok yang berdiri di sampingku itu adalah Kak Arfan
suamiku yang sedang sholat tahajud. Perlahan aku baringkan tubuhku
sambil membalikkan diriku membelakanginya yang saat itu sedang sholat
tahajud. Ya Allah aku lupa bahwa sekarang aku telah menjadi istrinya Kak
Arfan. Tapi meskipun demikian, aku masih tak bisa menerima kehadirannya
dalam hidupku. Saat itu karena masih dibawah perasan ngantuk, aku pun
kembali teridur. Hingga pukul 04.00 dini hari, kudapati suamiku sedang
tidur beralaskan sajadah dibawah ranjang pengantin kami.
Dadaku
kembali berdetak kencang kala mendapatinya. Aku masih belum percaya
kalau aku telah bersuami. Tapi ada sebuah pertanyaaan terbetik dalam
benakku. Mengapa dia tidak tidur di ranjang bersamaku. Kalaupun dia
belum ingin menyentuhku, paling gak dia tidur seranjang denganku itukan
logikanya. Ada apa ini? ujarku perlahan dalam hati. Aku sendiri merasa
bahwa mungkin malam itu Kak Arfan kecapekan sama sepertiku sehingga dia
tidak mendatangiku dan menunaikan kewajibannya sebagai seorang suami.
Tapi apa peduliku dengan itu semua, toh akupun tidak menginginkannya,
gumamku dalam hati.
Hari-hari terus berlalu. Kami pun mejalani aktifitas kami masing-masing, Kak
Arfan
bekerja mencari rezeki dengan pekerjaannya. Sedangkan aku di rumah
berusaha semaksimal mungkin untuk memahami bahwa aku telah bersuami dan
memiliki kewajiban melayani suamiku. Yah minimal menyediakan makanannya,
meskipun kenangan-kenangan bersama Boby belum hilang dari benakku, aku
bahkan masih merindukannya.
Semula
kufikir bahwa prilaku Kak Arfan yang tidak pernah menyentuhku dan
menunaikan kewajibannya sebagai suami itu hanya terjadi malam pernikahan
kami. Tapi ternyata yang terjadi hampir setiap malam sejak malam
pengantin itu, Kak Arfan selalu tidur beralaskan permadani di bawah
ranjang atau tidur di atas sofa dalam kamar kami. Dia tidak pernah
menyentuhku walau hanya menjabat tanganku. Jujur segala kebutuhanku
selalu dipenuhinya. Secara lahir dia selalu mafkahiku, bahkan nafkah
lahir yang dia berikan lebih dari apa yang aku butuhan. Tapi soal
biologis, Kak Arfan tak pernah sama sekali mengungkit- ungukitnya atau
menuntutnya dariku. Bahkan yang tidak pernah kufahami, pernah secara
tidak sengaja kami bertabrakan di depan pintu kamar, Kak Arfan meminta
maaf seolah merasa bersalah karena telah menyetuhku.
Ada
apa dengan Kak Arfan? Apakah dia lelaki normal? kenapa dia begitu
dingin padaku? apakah aku kurang di matanya? atau? pendengar, jujur
merasakan semua itu, membuat banyak pertanyaan berkecamuk dalam benakku.
Ada apa dengan suamiku? bukankah dia adalah pria yang beragama dan tahu
bahwa menafkahi istri itu secara lahir dan batin adalah kewajibannya?
ada apa dengannya? padahal setiap hari dia mengisi acara-acara keagamaan
di mesjid. Dia begitu santun pada orang-orang dan begitu patuh kepada
kedua orangtuanya. Bahkan terhadap aku pun hampir semua kewajibannya
telah dia tunaikan dengan hikmah, tidak pernah sekali pun dia bersikap
kasar dan berkata-kata keras padaku. Bahkan Kak Arfan terlalu lembut
bagiku.
Tapi satu yang
belum dia tunaikan yaitu nafkah batinku. Aku sendiri saat mendapat
perlakuan darinya setiap hari yang begitu lembutnya mulai menumbuhkan
rasa cintaku padanya dan membuatku perlahan-lahan melupakan masa laluku
bersama Boby. Aku bahkan mulai merindukannya tatkala dia sedang tidak
dirumah. Aku bahkan selalu berusaha menyenangkan hatinya dengan
melakukan apa-apa yang dia anjurkannya lewat ceramah-ceramahnya pada
wanita-wanita muslimah, yakni mulai memakai busana muslimah yang syar’i.
Memang
dua hari setelah pernikahan kami, Kak Arfan memberiku hadiah yang diisi
dalam karton besar. Semula aku mengira bahwa hadiah itu adalah
alat-alat rumah tangga. Tapi setelah kubuka, ternyata isinya lima potong
jubah panjang berwarna gelap, lima buah jilbab panjang sampai selutut
juga berwana gelap, lima buah kaos kaki tebal panjang berwarnah hitam
dan lima pasang manset berwarna gelap pula. Jujur saat membukanya aku
sedikit tersinggung, sebab yang ada dalam bayanganku bahwa inilah
konsekuensi menikah dengan seorang ustadz. Aku mengira bahwa dia akan
memaksa aku untuk menggunakannya.Ternyata dugaanku salah sama sekali.
Sebab hadiah itu tidak pernah disentuhnya atau ditanyakannya.
Kini
aku mulai menggunakannya tanpa paksaan siapapun. Kukenakan busana itu
agar diatahu bahwa aku mulai menganggapnya istimewa. Bahkan kebiasaannya
sebelum tidur dalam mengajipun sudah mulai aku ikuti. Kadang
ceramah-ceramahnya di mesjid sering aku ikuti dan aku praktekan di
rumah.
Tapi satu yang belum
bisa aku mengerti darinya. Entah mengapa hingga enam bulan pernikahan
kami dia tidak pernah menyentuhku. Setiap masuk kamar pasti sebelum
tidur, dia selalu mengawali dengan mengaji, lalu tidur di atas hamparan
permadani dibawah ranjang hingga terjaga lagi di sepertiga malam, lalu
melaksanakan sholat tahajud. Hingga suatu saat Kak Arfan jatuh sakit.
Tubuhnya demam dan panasnya sangat tinggi. Aku sendiri bingung bagaimana
cara menanganinya. Sebab Kak Arfan sendiri tidak pernah menyentuhku.
Aku khawatir dia akan menolakku bila aku menawarkan jasa membantunya. Ya
Allah..apa yang harus aku lakukan saat ini. Aku ingin sekali
meringankan sakitnya, tapi apa yang harus saya lakukan ya Allah..
Malam
itu aku tidur dalam kegelisahan. Aku tak bisa tidur mendengar hembusan
nafasnya yang seolah sesak. Kudengar Kak Arfan pun sering mengigau
kecil. Mungkin karena suhu panasnya yang tinggi sehingga ia selalu
mengigau. Sementara malam begitu dingin, hujan sangat deras disetai
angin yang bertiup kencang. Kasihan Kak Arfan, pasti dia sangat
kedinginan saat ini. Perlahan aku bangun dari pembaringan dan menatapnya
yang sedang tertidur pulas. Kupasangkan selimutnya yang sudah menjulur
kekakinya. Ingin sekali aku merebahkan diriku di sampingnya atau sekedar
mengompresnya. Tapi aku tak tahu bagaimana harus memulainya. Hingga
akhirnya aku tak kuasa menahan keinginan hatiku untuk mendekatkan
tanganku di dahinya untuk meraba suhu panas tubuhnya.
Tapi
baru beberapa detik tanganku menyentuh kulit dahinya, Kak Arfan
terbangun dan langsung duduk agak menjauh dariku sambil berujar ”Afwan
dek, kau belum tidur? kenapa ada di bawah? nanti kau kedinginan? ayo
naik lagi ke ranjangmu dan tidur lagi, nanti besok kau capek dan jatuh
sakit?” pinta kak Arfan padaku. Hatiku miris saat mendengar semua itu.
Dadaku sesak, mengapa Kak Arfan selalu dingin padaku. Apakah dia
menganggap aku orang lain. Apakah di hatinya tak ada cinta sama sekali
untukku. Tanpa kusadari air mataku menetes sambil menahan isak yang
ingin sekali kulapkan dengan teriakan. Hingga akhirnya gemuruh di hatiku
tak bisa kubendung juga.
”Afwan kak, kenapa sikapmu selama ini padaku begitu dingin? kau bahkan tak
pernah
mau menyentuhku walaupun hanya sekedar menjabat tanganku? bukankah aku
ini istrimu? bukankah aku telah halal buatmu? lalu mengapa kau jadikan
aku sebagai patung perhiasan kamarmu? apa artinya diriku bagimu kak? apa
artinya aku bagimu kak? kalau kau tidak mencintaiku lantas mengapa kau
menikahiku? mengapa kak? mengapa?” Ujarku disela isak tangis yang tak
bisa kutahan.
Tak ada
reaksi apapun dari Kak Arfan menanggapi galaunya hatiku dalam tangis
yang tersedu itu. Yang nampak adalah dia memperbaiki posisi duduknya dan
melirik jam yang menempel di dinding kamar kami. Hingga akhirnya dia
mendekatiku dan perlahan berujar padaku:
”Dek,
jangan kau pernah bertanya pada kakak tentang perasaan ini padamu.
Karena sesungguhnya kakak begitu sangat mencintaimu. Tetapi tanyakanlah
semua itu pada dirimu sendiri. Apakah saat ini telah ada cinta di hatimu
untuk kakak? kakak tahu dan kakak yakin pasti suatu saat kau akan
bertanya mengapa sikap kaka selama ini begitu dingin padamu. Sebelumnya
kakak minta maaf bila semuanya baru kakk kabarkan padamu malam ini. Kau
mau tanyakan apa maksud kakak sebenarnya dengan semua ini?" ujar Kak
Arfan dengan agak sedikit gugup.
“Iya tolong jelaskan pada saya Kak, mengapa kakak begitu tega melakukan ini
pada saya? tolong jelaskan Kak?” Ujarku menimpali tuturnya kak Arfan.
“Hhhhhmmm,
Dek kau tahu apa itu pelacur? dan apa pekerjaan seorang pelacur? afwan
dek dalam pemahaman kakak, seorang pelacur itu adalah seorang wanita
penghibur yang kerjanya melayani para lelaki hidung belang untuk
mendapatkan materi tanpa peduli apakah di hatinya ada cinta untuk lelaki
itu atau tidak. Bahkan seorang pelacur terkadang harus meneteskan air
mata mana kala dia harus melayani nafsu lelaki yang tidak dicintainya.
Bahkan dia sendiri tidak merasakan kesenangan dari apa yang sedang
terjadi saat itu. kakak tidak ingin hal itu terjadi padamu dek.
Kau
istriku dek, betapa bejatnya kakak ketika kakak harus memaksamu
melayani kakak dengan paksaan saat malam pertama pernikahan kita.
Sedangkan di hatimu tak ada cinta sama sekali buat kaka. Alangkah
berdosanya kakak, bila pada saat melampiaskan birahi kakak padamu malam
itu, sementara yang ada dalam benakmu bukanlah kakak tetapi ada lelaki
lain. Kau tahu dek, sehari sebelum pernikahan kita digelar, kakak sempat
datang ke rumahmu untuk memenuhi undangan Bapakmu. Tapi begitu kakak
berada di depan pintu pagar rumahmu, kaka melihat dengan mata kepala
kakak sendiri kesedihanmu yang kau lampiaskan pada kekasihmu boby. Kau
ungkapkan pada Boby bahwa kau tidak mencintai kakak. Kau ungkapkan pada
Boby bahwa kau hanya akan mencintainya selamanya. Saat itu kakak merasa
bahwa kakak telah mermpas kebahagiaanmu.
Souvenir Nikah-Souvenir Wedding
Kakak
yakin bahwa kau menerima pinangan kakak itu karena terpaksa. Kakak juga
mempelajari sikapmu saat di pelaminan. Begitu sedihnya hatimu saat
bersanding di pelaminan bersama kakak. Lantas haruskah kakak egois
dengan mengabaikan apa yang kau rasakan saat itu. Sementara tanpa
memperdulikan perasaanmu, kakak menunaikan kewajiban kakak sebagai
suamimu di malam pertama. Semenatara kau sendiri akan mematung dengan
deraian air mata karena terpaksa melayani kakak?
Kau
istriku dek, sekali lagi kau istriku. Kau tahu, kakak sangat
mencintaimu. Kakak akan menunaikan semua itu manakala di hatimu telah
ada cinta untuk kakak. Agar kau tidak merasa diperkosa hak-hakmu. Agar
kau bisa menikmati apa yang kita lakukan bersama. Alhamdulillah apabila
hari ini kau telah mencintai kaka. Kakak juga merasa bersyukur bila kau
telah melupakan mantan kekasihmu itu. Beberapa hari ini kakak perhatikan
kau juga telah menggunakan busana muslimah yang syar’i. Pinta kakak
padamu dek, luruskan niatmu, kalau kemarin kau mengenakan busana itu
untuk menyenangkan hati kakak semata. Maka sekarang luruskan niatmu,
niatkan semua itu untuk Allah ta’ala selanjutnya untuk kakak.”
Mendengar
semua itu, aku memeluk suamiku. Aku merasa bahwa dia adalah lelaki
terbaik yang pernah kujumpai selama hidupku. Aku bahkan telah melupakan
Boby. Aku merasa bahwa malam itu, aku adalah wanita yang paling bahagia
di dunia. Sebab meskipun dalam keadaan sakit, untuk pertama kalinya Kak
Arfan mendatangiku sebagai seorang suami. Hari-hari kami lalui dengan
bahagia. Kak arfan begitu sangat kharismatik. Terkadang dia seperti
seorang kakak buatku dan terkadang seperti orang tua. Darinya aku banyak
belajar banyak hal. Perlahan aku mulai meluruskan niatku dengan
menggunakan busana yang syar’i, semata-mata karena Allah dan untuk
menyenangkan hati suamiku.
Sebulan
setelah malam itu, dalam rahimku telah tumbuh benih-benih cinta kami
berdua. Alhamdulillah, aku sangat bahagia bersuamikan dia. Darinya aku
belajar banyak tentang agama. Hari demi hari kami lalui dengan
kebahagiaan. Ternyata dia mencintaiku lebih dari apa yang aku bayangkan.
Dulu aku hampir saja melakukan tindakan bodoh dengan menolak
pinangannya. Aku fikir kebahagiaan itu akan berlangsung lama diantara
kami, setelah lahir Abdurrahman, hasil cinta kami berdua.
Di
akhir tahun 2008, Kak Arfan mengalami kecelakaan dan usianya tidak
panjang. Sebab Kak Arfan meninggal dunia sehari setelah kecelakaan
tersebut. Aku sangat kehilangannya. Aku seperti kehilangan penopang
hidupku. Aku kehilangan kekasihku. Aku kehilangan murobbiku, aku
kehilangan suamiku. Tidak pernah terbayangkan olehku bahwa kebahagiaan
bersamanya begitu singkat. Yang tidak pernah aku lupakan di akhir
kehidupannya Kak Arfan, dia masih sempat menasehatkan sesuatu padaku:
“Dek..
pertemuan dan perpisahan itu adalah fitrahnya kehidupan. Kalau ternyata
kita berpisah besok atau lusa, kakak minta padamu Dek.., jaga
Abdurrahman dengan baik. Jadikan dia sebagai mujahid yang senantiasa
membela agama, senantiasa menjadi yang terbaik untuk ummat. Didik dia
dengan baik Dek, jangan sia-siakan dia.
Satu
permintaan kakak.., kalau suatu saat ada seorang pria yang datang
melamarmu, maka pilihlah pria yang tidak hanya mencintaimu. Tetapi juga
mau menerima kehadiran anak kita.
Maafkan
kakak Dek.., bila selama bersamamu, ada kekurangan yang telah kakak
perbuat untukmu. Senantiasalah berdoa.., kalau kita berpisah di dunia
ini..Insya Allah kita akan berjumpa kembali di akhirat kelak . Kalau
Allah mentakdirkan kakak yang pergi lebih dahulu meninggalkanmu, Insya
Allah kakak akan senantiasa menantimu..”
Demikianlah pesan terakhir Kak Arfan sebelum keesokan harinya Kak Arfan
meninggalkan
dunia ini. Hatiku sangat sedih saat itu. Aku merasa sangat kehilangan.
Tetapi aku berusaha mewujudkan harapan terakhirnya, mendidik dan menjaga
Abdurrahman dengan baik. Selamat jalan Kak Arfan. Aku akan selalu
mengenangmu dalam setiap doa-doaku, amiin. Wasallam”
NB : Kisah Nyata dari Akhwat di Gorontalo, Sulawesi Utara
sumber: https://tentang2013.blogspot.com/2013/11/kisah-nyata-tentang-cinta-islami-yang.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar